BELAJAR DARI PENERIMA KEBAIKAN

Apasih yang dilakukan dalam menebar kebaikan? Sebelum menebar kebaikan itu sendiri, sebaiknya kita paham dulu apa itu makna kebaikan. Kebaikan memiliki arti yaitu sifat manusia yang dianggap baik menurut sistem norma dan pandangan umum yang berlaku yang aku kutip dari KBBI. Contohnya seperti bersedekah, berbagi makanan dengan keluarga, teman dan orang-orang yang membutuhkan, memberi senyuman, membantu orang yang sedang kesusahan, mengingatkan orang-orang dalam kebaikan, berbagi informasi, berterima kasih pun merupakan sebuah kebaikan menurut aku.

Kita sudah sering mendengar tentang banyaknya manfaat kebaikan berbagi. Tapi kadang masih saja sulit untuk diimplementasikan dalam kehidupan kita. Mungkin kita perlu tau apa penyebabnya. Salah satu penyebabnya yang baru aku sadari yaitu kadang kita mengharapkan imbalan atas apa yang ingin kita bagikan. Atau kadang pernah terpikir, ini kalau dibagikan ganggu ga ya ke mereka yang liat? Atau nanti dikatain riya lagi, atau ini kalau dikasih ke mereka berguna ga ya bagi mereka, hufft jadi serba salah. Sering hal-hal tersebut terbesit dalam pikiran aku. Yap, hal tersebut kadang-kadang masih terjadi dalam diri aku. Mungkin saja itu bisikan-bisikan syaitan yang tidak ingin kita melakukan kebaikan.

Waktu terus berjalan, aku tidak ingin larut dalam pengharapan ini dalam menebar kebaikan. Suatu waktu aku ikut sebuah kajian yang dengan tema “Mencintai karena Allah”. Disana aku tersadar, menelaah setiap penjelasan ustadz, apasih maksudnya “Mencintai karena Allah”? Kenapa apa-apa harus karena Allah? Bingung, ku coba untuk menelaah kembali. Ku dapat jawabannya, yaitu “tentang Kecewa”.

Ada apa dengan “tentang Kecewa”? Jadi, jika kita melakukan kebaikan apapun jika itu dilakukan karena Allah, maka “Kekecewaan” itu tidak akan ada. Karena apa? Karena kita ikhlas, kita tau, bahwa apapun itu sesuatu yang baik kita lakukan akan dibalas dengan kebaikan yang lain oleh Allah. Entah saat itu juga atau suatu ketika nanti.

Jika kita melakukan suatu kebaikan, dan mengharapkan imbalan dari orang tersebut dan ternyata imbalan yang diharapkan tidak terjadi, maka “kekecewaan” itu akan timbul. Dan biasanya akan merusak “mood” kita, keimanan berkurang, dan berbagai hal negatif lainnya. Kemudian muncul pertanyaan, terus gimana dong berbagi kebaikan yang ga bikin kecewa? Hmm, aku ingin menjawab pertanyaan ini berdasarkan pengalaman yang aku lihat dan rasakan sendiri di paragraf selanjutnya.

Aku bisa dibilang orangnya, apa-apa harus logis, realistis, sesuai fakta lah, dsbnya. Bagi orang yang berfikiran logis, mungkin akan muncul pemikiran “ngapain sih ngasih ke dia, kita juga ga dapat apa-apa kok”, “yang realistis aja deh”, dan berbagai pemikiran selfish lainnya, ga peduli dengan orang lain, kalau feedback nya itu ga kelihatan langsung itu kayaknya susah banget ngelakuin kebaikan. Kalian juga gitu ga sih kadang-kadang?

Tapi suatu ketika aku bertemu dengan orang-orang yang suka menebar kebaikan, yaitu mereka suka berbagi informasi, berbagi makanan, memberi masukan, nasehat, dsbnya. Saat itu aku ga tau apakah mereka ada pengharapan atau tidak, tetapi mereka tetap melakukan kebaikan itu. Dan apa yang aku rasakan saat mereka lakukan hal itu ke aku, aku merasakan kebahagiaan tersendiri. Aku tersadar, mereka baik sekali, padahal kadang aku jutekin, cuma iya-iyain aja, ga meduliin mereka, tapi mereka tetap melakukan kebaikan itu. Disaat itu aku juga tertampar, seharusnya aku seperti itu dalam menebar kebaikan, jangan berharap pamrih. Coba kita rasakan bagaimana perasaan kita ketika menerima kebaikan itu. Ya, rasa bahagia, bersyukur seperti perut kenyang, mood bagus balik lagi, nambah ilmu baru, wah ternyata ada info ini ya, sesimple itu tetapi bermanfaat.

Jadi menurut aku sebenarnya kebaikan yang kita bagikan itu memberi kebahagiaan buat mereka yang menerima. Mungkin mereka tidak menyebutkannya, tapi percayalah sebenarnya mereka senang, bahagia, bersyukur, dan mungkin saja mereka mendoakan kebaikan juga untukmu.

Dan masih banyak lagi kisah orang lain yang dapat kita pelajari, praktekan dalam menebar kebaikan. Salah satu sumber pembelajaran kita yaitu pengalaman orang lain yang dapat kita lihat manfaatnya.

Jadi tebarlah kebaikan itu semata-mata karena Allah, sang pencipta kita. Tanamkan dalam pikiran kita :

“aku ga boleh mengharapkan imbalan dari orang tersebut”.   
“Semoga apa yang aku bagikan ini bermanfaat buat mereka”.  
“Ga apa-apa di share kok, ingat aja “Sampaikanlah walau satu ayat””.  

Dan kalimat-kalimat positif lainnya. 

Nantinya mungkin saja masih muncul pengharapan- pengharapan lainnya. Aku sadar itu wajar dan aku meyakini ini merupakan godaan syaitan yang ingin menjerumuskan kita ke dalam keburukan. Dan jika ini terjadi lagi maka biasanya aku mengingat kembali hal-hal refleksi diri dalam pikiran aku, seperti kalimat-kalimat berikut ini:

“Ingat vi, jangan pernah berhenti menebar kebaikan. Mungkin ini salah satu ujian Allah untuk meningkatkan keimanan kamu. Coba baca lagi, coba dengar lagi barangkali kamu lupa” 
“Ingat vi, jangan terlalu berharap akan suatu hal yang kamu lakukan dengan atau untuk orang lain. Siapkan diri jika hal yang diharapkan belum terwujud”.
“Evaluasi diri, karena manusia itu makhluk pelupa. Dan kamu itu manusia”.

Oh ya jika kita tidak bisa secara langsung berbagi dengan sesama, kita bisa melakukannya melalui zakat loh dan saat ini sudah banyak platform yang tersedia untuk membayar zakat. Salah satunya yaitu melalui Dompet Duafa. Tinggal kemauan diri kita sendiri saja.

Sebenarnya masih banyak pengalaman-pengalaman lain yang ingin aku bagikan. Mungkin dilain waktu. Jadi segini aja dulu, mungkin kamu bisa bagikan juga pengalaman kamu di kolom komentar nantinya.

Terima kasih sudah membaca, menebar kebaikan dan selamat menebar kebaikan J

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *